Kejanggalan Damri Bandara di Terminal Pasar Minggu

Malam ini, lebih dari satu jam aku menunggu di terminal Pasar Minggu. Mulai sekitar pukul 18.40 hingga 19.45. Akhirnya, bisa juga. Ada yang janggal di sini.

Sebetulnya sudah beberapa kali, aku menjadi penumpang bis Damri bandara dari terminal Pasar Minggu. Biasanya, ya naiknya dari dalam terminal. Di jadwal terpampang keberangkatan setiap 30 menit, mulai pukul 03.00 dini hari (kalo tidak salah) hingga pukul 20.00. Berbekal pengalaman itu, aku pun menunggu di dalam terminal. Anehnya, space yang biasa jadi tempat nongkrong Damri malah digunakan oleh bis AKAP. Terminal pun sedang ramai2nya calon pemudik lebaran haji.

Pukul 19.00, seharusnya ada Damri yang nongol di terminal ini. *Jangan2 busnya nggak masuk ke terminal*. Akhirnya, aku pun jalan, menunggu di depan terminal. 5 menit berlalu, terlihat Damri nyelonong di depan terminal melalui jalur cepat. Ada 2 calon penumpang yang ingin menyetop langsung naik, namun ditolak. *Kok aneh? Mungkin pulang ke poolnya*. Well, harusnya masih ada 2 bus lagi di belakang, 19.30 dan 20.00. *Lo ngga’ terlambat naik pesawat? | Tenang, pesawat jet pribadi terbangnya ya suka-suka lah | Mana ada pesawat pribadi di Soetta! Lagian, lo punya pesawat pribadi masih aja naik Damri! xP*. Ya, saya cuma mau jemput kok.

Akhirnya, menunggu lagi…… 4 penumpang yang takut ketinggalan pesawat, akhirnya memilih taksi yang mangkal dekat situ. 30 ribu per orang. 10 menit kemudian, 4 lagi pun akhirnya memilih moda taksi juga. Aku sempat ditawarkan pada rombongan ke 2 ini, namun aku memilih untuk bertahan.

19.45. Aku mengurungkan niatku sambil berdoa yang pulang dinas nanti selamat sampai tujuan. Aku pun berjalan ke arah stasiun, menyebrang jalan. Eh, pas ada Damri mau lewat–yang lagi-lagi lewat jalur cepat. Aku coba tanya, bisakah ikut, dan ternyata bisa. Sendiri naik Damri ini. Sampai di dalam jadi agak-agak takut. *Bang, jangan perkosa saya bang, saya masih perjaka*.

Lanjut jalan sekitar 30 meter, ada juga ibu2 yang meminta naik, namun kali ini ditolak. Disuruh naik agak di depan. Alasannya, taksi. Takut para supir taksi marah. *Wew, kok bisa?*. Penasaran, aku tanyakan akhirnya ke supir Damri dan kondekturnya. Jadi ternyata, Damri Pasar Minggu itu cuma punya jatah sampe jam 19.00 aja. Lewat dari situ, taksi yang menguasai dengan seenaknya. Melanggar, timpukan batu bisa melayang. Ya ampun. Ngga’ ada rasa curiga sama sekali tadi sama supir2 taksi yang ada di sekitar situ karena mereka tak pernah memaksa kami untuk naik. Tapi, semua itu akhirnya logis. Jelas. Orang pergi ke bandara itu selalu melebihkan waktu 1-2 jam, bahkan ada yang lebih. Jadi ya biarkan saja, pasti akan ada yang akhirnya memilih mereka. *sigh*.

Jadi, buat kalian yang mau naik Damri malam dari Pasar Minggu, sebaiknya menunggu Damri di dekat pertigaan/lampu merah di depan.

Well, begitulah salah satu bentuk layanan transportasi massal yang dimiliki ibu kota Jakarta ini. Semoga pak Jokowi atau jajarannya ada yang membaca tulisan ini dan langsung membenahinya.

Posted from WordPress for Android

~image courtesy: here

Advertisements

11 thoughts on “Kejanggalan Damri Bandara di Terminal Pasar Minggu

  1. Oooh 😮 baru tau. Makasih infonya. Minggu depan mau ke Soetta malam juga soalnya. Berarti kalo sebelum jam 19.00 DAMRI-nya masih di terminal seperti biasa kan?

  2. Pastesan dulu pernah nunggu Damri lewat deket pertigaan Kalibata sekitar jam 7an malam jadi
    susah bnget… Ternyata ini alasannya….

      1. nah trus sebenernya jam terakhir damri jam berapa? ada yg bilang jam 3 pagi – 8 malam.. tapi kok banyak juga yg berpengalaman kalo mulai jam 4 pagi – 7 malaman krn ada ada intimidasi dr oknum supir taksi. serius gak nih?
        nb: khusus yang di pasming

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s