RSS

#AkhirnyaMemilihJokowi

03 Jul

Selamat malam, anti-apatis

Hashtag di atas katanya sempat menjadi trending topic di dunia twitter *udah lama ngga twitter-an karena akun teman-teman personal yang di-follow udah jarang berkicau di sini*. Dan karena hashtag ini, rasanya gw ingin menulis sekaligus mengakhiri ikut-ikutan meramaikan timeline Facebook dengan segala copras-capres.

Gw termasuk yang #AkhirnyaMemilihJokowi.

Awal
Gw termasuk yang kecewa berat ketika Jokowi akhirnya nurut untuk diajukan menjadi capres, karena harus menanggalkan jabatannya sebagai Gubernur Ibu Kota, apalagi baru menjabat kurang-lebih setahun. Melihat Prabowo oke deh. Sampai akhirnya berkembang, Jokowi meminang pak Jusuf Kalla. Ini poin lebih mengingat apa yang telah beliau lakukan. Terus Prabowo memilih Hatta sebagai wakilnya. Lebih kecewa lagi. Alasannya simple: Mafia Hukum. Hati pun sedikit condong pada calon #2

Alasan#1
Makin dekat tanggal pencoblosan, suasana ternyata semakin meriah. Bermula dari grup WA kantor gw, kemudian timeline Facebook. Wow. Ini dari sudut pandang media sosial gw ya. Isinya semua kalo ndak negative campaign ya black campaign terhadap bapak Jokowi. Gw heran. Kok bisa ya sampai seramai ini? Kok bisa ya, karena gw yakin banyak dari mereka yang suka dengan Jokowi ketika beliau menjabat sebagai Gubernur melihat apa yang telah beliau kerjakan, terus berputar 180 derajat. Luar biasa. Dan tahukah kalian, inilah salah satu alasan kenapa gw tidak mau memilih #1, bukan alasan gw untuk memilih #2. Ya, seperti yang sudah saya sampaikan beberapa kali di status Facebook, semua ini karena ‘kalian’. ‘Kalian’ yang doyan share berita-berita buruk tentang Jokowi, ‘musuh’ kalian.

Lanjut
Media. Inilah sumber dari Alasan#1. Setelah mengamati lebih jauh, kalian akan mendapati media-media online yang mengarah ke satu kubu tertentu, dan dari sekian banyak media tersebut tetiba muncul media online ‘baru’ yang naik daun (atau saya aja yang kurang gaul ya?) semacam voa-islam.com dan pkspiyungan.org. Isi kedua media Islami ini sungguh ‘opini kreatif’. Secara garis besar, kira-kira 80% itu mendukung #1, 10% mendukung #2 dan sisanya netral.

List media #1: voa-islam.com, pkspiyungan.org, viva.co.id, republika.co.id, inilah.com, okezone.com plus tentunya TvOne.
List media #2: metrotvnews.com, kompas.com (well, Kompas ini masih cukup berimbang juga menurut gw) plus tentunya MetroTV.
List media netral: detik.com dan tribunnews.com (sama kayak kompas, tapi menurut gw yang ini netral)
Cara gampangnya, buka aja link di atas, masuk ke topik khusus Pemilu 2014, dan lihat saja judul-judul beritanya. Done.

So, ngga heran kalo medsos pun akhirnya meriah sekali oleh pendukung #1. Tapi sedihnya, berita-berita mereka berbau negatif semua. Asli, gw sedih meskipun dalam hadits dikatakan bahwa Ghibah diperbolehkan untuk urusan memilih pemimpin. Andai, mereka mengisinya lebih banyak dengan berita-berita positif sang capres #1 dan wakilnya, mungkin hati ini bisa berubah haluan. Masih mau lanjut baca kan…

Alasan#2
Koalisi. Saya tidak melihat lagi kelebihan dan kelemahan yang ada pada kedua capres, karena buat saya keduanya berimbang, dan hati saya memang lebih cocok pada nomor #2. Berikutnya yang saya lihat adalah koalisi. Berkat status Facebook teman saya, saya baru sadar kalo koalisi sang #1 itu sama dengan koalisi kabinet bapak SBY saat ini. Dan itu gw anggap gagal. Lihatlah jajaran menteri yang ada, yang terikat kontrak pada pembagian kursi. Well, transaksi politik semacam ini sih merupakan hal yang biasa menurut gw. Sayangnya, transaksinya pada kabinet di periode 2 ini mengecewakan. Beberapa contoh: Tiffatul Sembiring sang Menkominfo doyan ngetweet? Akses internet cepat dianggap ngga penting, blokir salah sasaran dan ngga niat. Djan Faridz, Menteri Perumahan Rakyat? Lihatlah Jakarta, itu perumahan kumuh dkk aja ngga diurusin, berapa rumah susun yang sudah dibangun?, berapa perumahan murah yang dibangun di negeri ini?. Yang ada justru Kampung Deretnya si #2. *Mohon konfirmasi jika memang ada sebuah prestasi dari kementrian ini. Cukup kan? Mau bawa-bawa Menko Perekonomian yang jadi wakilnya? Lah itu dianggap ‘bocor’ sama pasangannya sendiri.

Nah, itu udah keliatan lah gimana koalisi ini gimana kinerjanya selama periode kedua pemerintahan SBY ini. “Indonesia Bangkit!” pun menurut gw hanya akan menjadi jargon semata.

Terakhir
Pak Habibie di Mata Najwa. Jika kalian menonton dan masih mengingatnya, beliau terlihat condong pada Jokowi. Alasan beliau simpel, yang muda, bukan yang dari masa lalu. Mau bilang ini acaranya MetroTV dan terafiliasi dengan Jokowi? Lah koalisi dulu belum terbentuk sebelum episode ini tayang *sepertinya.

Dengan alasan-alasan di atas, gw pun #AkhirnyaMemilihJokowi. Gw rasa, itulah alasan gw untuk #AkhirnyaMemilihJokowi. Jokowi memang punya kekurangan, dan saya pun tau semua kekurangan beliau dari segala sharing berita yang kalian berikan. Tapi Insya Allah saya masih memakluminya. Tak perlu lagi kalian pendukung #1 repot-repot untuk memberikan link-link berita lagi, karena saya tidak akan berubah pikiran atas 1 suara ini. Dan gw juga tidak mengajak kalian yang masih netral untuk memilih #2 lewat tulisan ini. Biarkan tulisan ini menjadi salah satu referensi kalian dalam memilih. Selamat merayakan pesta rakyat ini 9 Juli nanti. Siapapun yang menang, saya akan menerimanya dengan ikhlas, karena yang menang lah yang memang pilihan rakyat negeri ini.

Semoga, betul Indonesia bisa berubah menjadi lebih baik sesuai janji mereka berdua, tidak melulu stagnan keadaannya seperti apa yang kita rasakan selama ini. Amiinn

 
4 Comments

Posted by on Jul 3, 2014 in Miscellaneous

 

Tags: , , , , ,

4 responses to “#AkhirnyaMemilihJokowi

  1. Lex dePraxis

    Jul 15, 2014 at 16:41

    Ah, tulisan yang menarik! Kita memang perlu belajar lebih hati-hati dalam meresponi infomasi, karena kebenaran dan persepsi punya banyak wajah yang berbeda. Yang diperlukan adalah kecerdasan, bukannya netralitas ataupun kemasabodoan. Makanya saya lebih suka berbisik, daripada berteriak frontal tentang situasi yang ada, seperti saya sudah tulis dalam Bisikan Tentang Cinta, Bangsa, dan Dunia.

     
    • Ardi

      Jul 16, 2014 at 03:15

      Satu lagi, keterbukaan pikiran untuk menerima sanggahan

       
  2. istianasutanti

    Jul 17, 2014 at 06:13

    Aaaakk.. sama banget dah alasannyaaa.. toss!
    sesungguhnya gw juga terpengaruh sama omongannya pak Anies Baswedan, ‘karena Jokowi tidak punya beban masa lalu’. Itu bikin mantep banget milih dia😀
    plus, sangat terpengaruh sama tulisan2nya mbak Jihan Davincka :v
    She was campaign elegantly… kalo mau baca *yang sekarang mungkin udah gak ngaruh lagi* bisa di blognya dia: http://jihandavincka.wordpress.com/😉

     
  3. istianasutanti

    Jul 17, 2014 at 06:19

    #campaigned maksutnyah xp

     

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: